Kamis, 10 Maret 2022

Evaluasi Pemberdayaan Komunitas dalam Menyikapi Ketimpangan Sosial

 1. Pengertian pemberdayaan komunitas 

Merupakan pendekatan evaluasi yang bertujuan meningkatkan kemungkinan mencapai keberhasilan program.

Pokok pikiran dalam evaluasi:
a. Pengamatan dan pengumpulan data serta fakta
b. Pengukuran atau pembandingan hasil pengamatan dengan pedoman-pedoman yang sudah ditetapkan
c. Analisis data dan informasi 
d. Penilaian dan pengambilan keputusan 

2. Tujuan dan peran evaluasi pemberdayaan komunitas dalam menyikapi ketimpangan sosial 
a. Menjaga konsistensi kinerja pelaksaan pemberdayaan 
b. Menelaah ketercapaian target pemberdayaan 
c. Memberikan masukan dan solusi dalam memperbaiki permasalahan proses pemberdayaan
d. Sebagai sarana dan media pelaporan program kerja
e. Sebagai media pengembangan sistem pelaksanaan pemberdayaan 

3. Prinsip-prinsip evaluasi pemberdayaan komunitas 
a. Partisipasi
b. Berorientasi pada peningkatan mutu 
c. Tindak lanjut 
d. Akurasi informasi
e. Transparansi/akuntabilitas 

4. Pelaku kegiatan evaluasi pemberdayaan komunitas 
a. Masyarakat setempat
b. Pemerintah
c. Fasilitator dan konsultan
d. Lembaga Swadaya Masyarakat 

Penyusunan Laporan Hasil Evaluasi Pemberdayaan Komunitas

Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Pemberdayaan Komunitas

1. Langkah-langkah Pemantauan dan Evaluasi Pemberdayaan Komunitas 

a. Persiapan 

b. Pelaksanaan

c.  Analisis

d. Pelaporan dan Tindak Lanjut 

2. Pengumpulan Data dalam Pemantauan dan Evaluasi Pemberdayaan Komunitas

a. Diskusi Kelompok Terarah (DKT) atau Focus Group Discussion (FGD)

b. Survei

c. Observasi dan Wawancara













Minggu, 06 Maret 2022

Pembangunan Nasional

 

1. pengertian pembangunan nasional

2. tujuan pembangunan nasional

3. landasan pembangunan nasional

4. nilai-nilai pembangunan

5. prinsip penyusunan program pembangunan

Minggu, 13 Februari 2022

Materi Kelas XII IBB

I. Perubahan sosial klik disini

faktor penyebab perubahan sosial 

faktor pendorong perubahan sosial 

Bentuk-bentuk perubahan sosial 

Dampak perubahan sosial

Permasalahan sosial akibat pengaruh Globalisasi klik disini

Berbagai permasalahan sosial akibat pengaruh globalisasi 

Sikap kritis dalam menghadapi tantangan globalisasi 

II. Pembangunan nasional klik di sini

III. Bahasa klik disini

IV. Tradisi lisan atau folklore

Pengertian

Fungsi tradisi lisan atau folklore

Ciri folklor

Pembagian tradisi lisan atau folklore

V. Kearifan lokal klik disini

Pengertian

Unsur kearifan lokal

Pelaksanaan strategi pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal 

Berbagai program pemberdayaan komunitas melalui kearifan lokal

Rabu, 17 Februari 2021

Perbedaan Stratifikasi Sosial dan Diferensiasi Sosial

Perbedaan masyarakat secara vertikal –sebagaimana dikemukakan oleh Nasikun- disebut stratifikasi sosial, sedangkan perbedaan masyarakat secara horizontal disebut diferensiasi sosial. Stratifikasi sosial muncul karena ketimpangan distribusi dan kelangkaan barang berharga yang dibutuhkan masyarakat, seperti uang, kekuasaan, pendidikan, keterampilan, dan semacamnya. Sementara itu, diferensiasi sosial muncul karena pembagian kerja, perbedaan agama, ras (pengelompokan individu atas dasar ciri fisik), etnis (pengelompokan individu atas dasar ciri persamaan kebudayaan, seperti bahasa, adat, sejarah, sikap, wilayah), atau perbedaan jenis kelamin.

Di dalam stratifikasi sosial, hubungan antarkelas dalam banyak hal cenderung tidak seimbang –dimana ada pihak tertentu yang lebih dominan dan berkuasa daripada pihak yang lain. Sementara itu, di dalam diferensasiasi sosial yang dipersoalkan bukanlah apakah antara berbagai kelompok (bukan antara berbagai kelas) itu seimbang atau tidak, melainkan yang lebih ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya bersifat pluralistik dan di dalam terdapat sejumlah perbedaan.

Secara normatif, di dalam diferensiasi sosial, memang hak dan kewajiban antara kelompok yang satu dengan yang lain relatif sama di mata hukum. Tetapi, bagaimanapun harus diakui bahwa di dalam kenyataan yang terjadi diferensiasi sosial umumnya selalu tumpang tindih dengan stratifikasi sosial.

Hubungan antarkelompok dalam diferensiasi sosial –entah itu atas dasar perbedaan profesi, ras, etnis, agama, atau jenis kelamin- selalu tidak pernah netral dari dimensi-dimensi stratifikasi sosial. Hak dan kewajiban seorang buruh dan majikan, misalnya, di mata hukum secara normatif sama. Tetapi, karena antara keduanya dari segi kekuasaan dan ekonomi jauh berbeda, maka pola hubungannya pun menjadi tidak seimbang. Seorang majikan, jelas posisinya akan lebih dominan dan berhak memerintah para buruhnya. Sebaliknya, para buruh akan selalu bersikap hormat kepada majikan yang membayarnya. Memperoleh upah yang layak, misalnya, secara hukum adalah hak kaum buruh. Namun, karena para buruh itu menyadari bahwa mencari pekerjaan itu susah dan tidak memiliki alternatif untuk bekerja di sektor lain, maka sering kita temui banyak kaum buruh relatif bersikap pasrah begitu saja –kendati diberi upah di bawah KUM (Kententuan Upah Minimum).

Jadi, antara stratifikasi social dan diferensiasi social tidak bisa dipisahkan. Keduanya, berjalan beriringan, saling tumpang tindih.

Sumber:
Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2015. SOSIOLOGI: TEKS PENGANTAR DAN TERAPAN. Jakarta: Prenadamedia Group. (hal:194-195)