Berikut karya dari kelas XII-11.
Selamat menikmati.
Karya 1:
Perubahan Kecil Yang Tampak Biasa Saja Membawa Dampak Besar Bagi Masyarakat
Dalam jangka waktu satu sampai dua minggu, kami melakukan pengamatan untuk menyelesaikan tugas sosiologi kami mengenai perubahan sosial dan globalisasi dengan cara mengobservasi kegiatan yang ada di Desa Tasikagung, Rembang. Kami menyaksikan beberapa aktivitas yang menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu hadir melalui pembangunan besar, teknologi canggih, atau perubahan kebijakan yang mencolok. Justru, ia muncul diam-diam di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di setiap sudut desa, tradisi dan kebiasaan lama masih terasa hangat, tetapi kini hal tersebut berjalan berdampingan dengan pengaruh global yang masuk melalui media sosial, pasar luar daerah, dan arus informasi digital. Desa Tasikagung ini menjadi salah satu ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara kearifan lokal dan budaya dunia, di mana masyarakat belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri. Observasi ini berusaha menangkap momen-momen kecil yang sering terlewat, namun justru menunjukkan bagaimana globalisasi membentuk kehidupan manusia dari level paling dekat yaitu keseharian.
Setiap pagi, pemandangan ibu-ibu yang berbelanja bahan makanan di depan rumah terasa sangat akrab dan seakan tak pernah berubah. Namun, di balik rutinitas sederhana itu sebenarnya ada banyak hal baru yang masuk perlahan. Pilihan makanan kini sudah tidak monoton karena sudah banyak resep makanan yang bisa diakses melalui sosial media. Informasi soal harga atau makanan yang sedang viral sudah bisa di dapatkan dari gawai/smartphone. Kebiasaan yang tampak biasa ini menunjukkan bagaimana pengaruh global pelan-pelan masuk ke kehidupan sehari-hari.
Setelah itu di TPI (Tempat Pelelangan Ikan), suasananya selalu ramai oleh orang-orang yang bekerja mengurus hasil tangkapan nelayan. Dari luar, ini terlihat seperti kegiatan yang sudah begini-begitu sejak lama. Tapi sebenarnya, pola kerja mereka juga terus berubah. Ikan yang dibawa nelayan tidak hanya dipasarkan untuk warga sekitar, tetapi juga akan di kirim ke luar daerah atau bahkan luar negeri. Tempat ini menjadi bukti bahwa ekonomi lokal kini terhubung dengan pasar yang lebih luas.
Menjelang siang atau sore, para bapak biasanya duduk santai di teras rumah sambil ngobrol dengan tetangga. Kebiasaan ini tetap jadi bagian hangat dari kehidupan masyarakat. Tapi isi obrolannya sudah berbeda mereka tidak hanya bercerita soal kejadian di kampung, tetapi juga membahas berita nasional atau bahkan kabar luar negeri yang mereka lihat dari ponsel. Interaksi sederhana ini menunjukkan bagaimana informasi global kini masuk ke percakapan sehari-hari tanpa terasa.
Saat sore berganti malam, lapangan mulai dipenuhi anak-anak dan remaja yang bermain bola atau basket. Dari jauh, kelihatan seperti aktivitas yang sama dari dulu. Namun cara mereka bermain dipengaruhi oleh dunia yang lebih besar. Mereka meniru gaya pemain internasional, belajar teknik dari video online, dan mengatur jadwal bermain lewat grup pesan. Lapangan akhirnya menjadi tempat bertemunya kebiasaan lokal dengan pengaruh budaya global yang ikut membentuk karakter anak muda.
Keempat gambaran ini mengingatkan kita bahwa hal-hal yang tampak “biasa saja” sebenarnya terus berubah. Perubahan sosial dan globalisasi tidak selalu datang dengan cara yang mencolok, namun tak jarang sering kali ia hadir melalui kebiasaan kecil yang kita temui setiap hari.
Kelompok
- Cliff Arga Saputra (absen)
- Mochammad Ilham (20)
- Puspita Mahannani (30)
- Tiara Yurizka Al.Hasby (36)
Evolusi Pertanian di Rembang Dari Tradisional ke Modern
Dokumen pribadi: Terlihat orang sedang membajak sawah
Dulu, pemandangan sawah di Rembang tidak lengkap tanpa petani yang turun ke ladang bersama kerbau atau sapi untuk membajak tanah. Cara tradisional ini telah digunakan selama puluhan tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Bagi sebagian orang, suara lonceng pada kerbau dan aroma tanah basah yang baru dibajak menghadirkan nostalgia tersendiri, karena mencerminkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, seiring berjalannya waktu dan masuknya berbagai inovasi teknologi, praktik pertanian di Rembang mulai mengalami transformasi besar. Petani tidak lagi sepenuhnya mengandalkan tenaga hewan, tetapi telah beralih menggunakan mesin-mesin pertanian modern seperti traktor dan kultivator. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga memungkinkan pembajakan dilakukan lebih cepat dan merata.
Peralihan dari cara tradisional ke metode modern membawa banyak manfaat nyata. Petani dapat menghemat waktu dan tenaga, sehingga memiliki kesempatan untuk fokus pada perawatan tanaman, pemupukan, atau pengelolaan lahan lainnya. Selain itu, penggunaan mesin membuat proses pengolahan tanah menjadi lebih presisi, yang pada akhirnya berdampak positif pada kualitas dan kuantitas hasil panen.
Di Rembang saat ini, kita dapat melihat bagaimana pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi turut membentuk wajah baru sektor pertanian. Petani-petani modern semakin terbuka terhadap penggunaan alat-alat canggih, dan hal ini menjadi langkah penting menuju pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan. Ke depannya, menarik untuk ditunggu bagaimana inovasi baru akan terus memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan para petani di Rembang.
Kelompok kami menyimpulkan bahwa peralihan dari pertanian tradisional ke modern di Rembang sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Meski cara tradisional memiliki nilai budaya, teknologi memberikan manfaat lebih besar dalam jangka panjang. Dengan bantuan mesin, petani dapat bekerja lebih cepat.
Anggota kelompok:
1.Akhwan Khorul A.(05)
2.Aryo Dimaz P.(09)
3.Machmadah ‘Ulyaa Syafiiqoh (19)
4.M. Afiq(22)
Perubahan sosial yang terjadi pada generasi muda saat ini membawa dampak besar terhadap keberlangsungan budaya lokal. Seiring perkembangan teknologi dan globalisasi, perhatian anak muda lebih banyak tertuju pada tren modern, hiburan digital, dan budaya populer dari luar negeri. Kondisi ini membuat nilai-nilai tradisional yang dulu dijunjung tinggi oleh masyarakat perlahan mulai terkikis. Salah satu budaya yang terdampak cukup signifikan adalah kesenian ketoprak, sebuah seni pertunjukan tradisional yang sarat nilai sejarah, moral, dan kearifan lokal.
Dahulu, ketoprak menjadi salah satu hiburan favorit masyarakat, terutama di daerah Jawa. Pertunjukan ketoprak mampu menarik perhatian berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa, karena penyajiannya yang hidup dan penuh pesan. Namun, kini peminat kesenian tersebut semakin menurun drastis. Generasi muda cenderung menganggap ketoprak sebagai hiburan kuno yang tidak lagi relevan dengan kehidupan mereka. Hal ini menjadi salah satu penyebab semakin sedikitnya penonton dan pelaku seni ketoprak yang bertahan.
Minimnya minat generasi muda terhadap ketoprak tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, tetapi juga kurangnya ruang dan kesempatan untuk berinteraksi dengan budaya tradisional. Sekolah dan lingkungan sosial lebih banyak menekankan perkembangan teknologi dan akademik, sementara kegiatan yang berhubungan dengan seni tradisional semakin jarang diangkat. Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa mengenal atau memahami makna penting kesenian ketoprak bagi identitas budaya mereka. Inilah yang akhirnya mempercepat proses pelupaan terhadap budaya warisan leluhur.
Jika keadaan ini dibiarkan, keberadaan ketoprak sebagai bagian penting dari budaya lokal bisa hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, perlu adanya upaya bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat untuk menghidupkan kembali ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional. Melalui inovasi penyajian, pemanfaatan media digital, serta edukasi budaya sejak dini, ketoprak masih berpeluang untuk kembali dikenal dan dicintai. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya menikmati hiburan modern, tetapi juga tetap menghargai dan melestarikan kekayaan budaya daerahnya.
Anggota kelompok ;
1. Safa Helsa Labibah (33)
2. Afif Nurhidayat (01)
3. Devin Setyawan T (12)
4.Ahmad Sihabudin (03)
Dalam observasi yang kami lakukan selama dua minggu di Desa Ketanggi, RT 02/RW 01, Kecamatan Rembang, sore hari menjadi waktu yang paling sering memperlihatkan aktivitas warga. Pada salah satu sore tersebut, ibu-ibu RT 02 tampak berkumpul untuk mengadakan rapat rutin yang dipimpin oleh Ibu RT selaku koordinator kegiatan perempuan. Pertemuan ini membahas berbagai hal terkait perbaikan lingkungan dan kebutuhan warga di wilayah mereka.
Salah satu topik utama dalam rapat tersebut adalah rencana menabung bersama untuk membeli seragam baru yang akan dipakai dalam kegiatan RT sekaligus menunjang berbagai kegiatan warga di lingkungan sekitar. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana ibu-ibu RT 02 mulai menerapkan cara kerja yang lebih teratur dan terencana, sebagai bagian dari adaptasi warga di era globalisasi. Dari pengamatan kami, ibu-ibu RT 02 terlihat cukup aktif dan teratur dalam mengurus wilayahnya. Kegiatan seperti menabung bersama, membuat rencana, hingga membicarakan kebutuhan RT menunjukkan bahwa mereka punya cara kerja yang lebih rapi dibandingkan RT lain yang tidak memiliki kegiatan serupa.
Aktivitas seperti ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat desa ikut mengalami perkembangan dalam cara mereka mengatur kegiatan. Jika dulu banyak hal dilakukan secara spontan, kin mereka mulai menyusun rencana bersama dan membuat kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih teratur. Kebiasaan baru ini mencerminkan adaptasi warga yang lebih teratur sekaligus pengaruh pola pikir modern di era globalisasi. Meski begitu, suasana kekeluargaan dan kebersamaan tetap terasa karena semua keputusan dibicarakan lewat musyawarah.
Rapat rutin ibu-ibu RT 02 ini bukan sekadar pertemuan, tetapi menjadi contoh sederhana bagaimana warga dapat menjaga kebersamaan sambil menerapkan cara-cara baru yang lebih teratur. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat diikuti oleh ibu-ibu RT lain di Desa Ketanggi, sehingga suasana saling mendukung, keterlibatan warga, dan perhatian terhadap lingkungan dapat dirasakan secara lebih luas oleh seluruh warga desa.
Anggota Kelompok:
1. Anastasya Qorri Aina (06)
2. Anik Indasyah (08)
3. Nafisa Silvi Oktaviani (25)
4. Syiva Auliya Ikhyarunnisa (35)
Analisis
Aktivitas Masyarakat
Desa Waru
Dokumentasi
Pribadi Afni : Ibu-Ibu sedang melakukan kegiatan rutinan Al-Berjanji
Setiap malam Senin, saya mengamati para ibu-ibu tetangga berkumpul di rumah warga yang telah dijadwalkan sebagai tempat pelaksanaan Al-Berjanji. Mereka datang dengan busana muslim rapi sambil membawa kitab Berzanji, lalu duduk melingkar di ruang tamu yang telah disiapkan. Kegiatan dimulai setelah salat Isya dengan pembacaan salawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW secara bergantian, menggunakan irama yang teratur dan penuh kekhidmatan. Suasana terasa tenang ,hanya terdengar lantunan bacaan serta sesekali suara halaman kitab yang dibalik. Setelah selesai, mereka mendengarkan tausiah singkat dari ibu yang lebih senior, lalu menutup kegiatan dengan doa bersama. Tuan rumah kemudian menyajikan kudapan sederhana sebagai bentuk ramah tamah. Pada bagian akhir kegiatan, saya melihat para ibu berdiskusi untuk menentukan rumah yang akan digunakan minggu berikutnya, sekaligus melakukan penarikan iuran rutin sebesar Rp3.000 sebagai dukungan kelancaran kegiatan. Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan kekompakan warga.
Dokumentasi Pribadi Earlene : guru
dan anak-anak TK sedang jalan-jalan bersama
Pada hari Sabtu, 22 November 2025, sekelompok anak-anak TK lewat di depan rumah saya. Mereka berjalan berbaris sambil memakai seragam oranye dan membawa tas kecil di punggung. Di depan rombongan, gurunya memimpin langkah mereka sambil sesekali memperhatikan anak-anak di belakang. Ada yang tampak ngobrol pelan dengan temannya, ada juga yang hanya mengikuti barisan dengan tenang. Pemandangannya sederhana, tapi menyenangkan melihat mereka berjalan bersama melewati rumah-rumah di sekitar.
Dokumentasi Pribadi Laila : ibu-ibu sedang berbincang-bincang
Hampir
setiap sore saya sering melihat ibu-ibu yang berkumpul untuk berbincang satu
sama lain. Mereka biasanya berkumpul di warung yang ada di samping rumah saya.
Sambil ngobrol, mereka membeli jajanan seperti gorengan, es, atau camilan kecil
lainnya. Kadang mereka datang satu per satu, tapi begitu ada yang mulai duduk,
yang lain ikut merapat dan suasananya langsung ramai.
Walaupun terlihat seperti ngobrol santai, kegiatan ini sebenarnya mencerminkan kedekatan dan kebersamaan antarwarga. Di warung itu mereka bisa saling curhat, bertukar kabar, dan melepas lelah setelah seharian bekerja di rumah. Sederhana, tapi dari kebiasaan itulah suasana lingkungan jadi lebih hangat dan saling mengenal.
Dokumentasi Pribadi Naya : anak-anak sedang bermain bersama di depan rumah
di sore hari, ada anak-anak bermain
dengan penuh semangat di gang depan rumah, sore yang mulai sejuk membuat suasana terasa nyaman mereka bisa
bebas berlari dan bergerak tanpa merasa kepanasan ada anak yang sedang melihat
ke atas sementara anak-anak yang lain ada yang sedang berjalan sama dan saling
mengobrol ada juga yang menonton permainan di samping meskipun sederhana tempat
itu cukup luas bagi mereka untuk bermain kejar-kejaran dan
lompat-lompatan.meskipun tanpa permainan khusus mereka tetap terlihat senang
sekedar berlarian bercanda atau mengikuti arah teman sudah cukup membuat surat
itu terasa menyenangkan kebersamaan itulah yang membuat momen bermain di sore
hari begitu hangat dan menyenangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar