Berikut karya kelas XII-7
karya 1
LONTONG TUYUHAN
Rembang – Halo, sudah pernah dengar tentang Lontong
Tuyuhan? Kalau Anda pencinta kuliner pedas gurih, makanan yang satu ini wajib
banget masuk daftar coba Anda. Benar sekali, ini adalah salah satu pusaka
kuliner dari Rembang, Jawa Tengah, tepatnya berasal dari sebuah desa bernama
Tuyuhan di Kecamatan Pancur. Makanya, namanya juga unik, kan? Lontong Tuyuhan!
Sekilas, Lontong
Tuyuhan ini memang mirip dengan opor atau gulai ayam. Tapi, coba deh perhatikan
lebih dekat dan cicipi! Kuahnya itu lho, berwarna kuning kemerahan yang
menggoda, tanda bahwa bumbu rempahnya sangat kaya dan tidak pelit cabai. Rasa
pedasnya itu bukan Cuma sekadar “nempel” di lidah, tapi benar-benar menyelimuti
dan memberikan sensasi hangat yang bikin mata melek. Eits, tapi jangan
khawatir, pedasnya diimbangi dengan rasa gurih santan yang kental dan legit.
Kombinasi pedas-gurih-manis yang pas inilah yang membuat Lontong Tuyuhan punya
karakter rasa yang kuat dan beda dari yang lain.
Lontong Tuyuhan
adalah salah satu kekayaan kuliner dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang
tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan kisah sejarah dan filosofi
mendalam. Makanan ini berasal dari nama sebuah desa, yaitu Desa Tuyuhan di
Kecamatan Pancur, Rembang, yang menjadi sentra utama kuliner khas ini.
Lauk Ayam Kampung,
Sajian ini menggunakan potongan daging ayam kampung yang dimasak hingga empuk
dan meresap sempurna. Pengunjung biasanya bebas memilih bagian ayam sesuai
selera.
Lontong Segitiga,
Inilah keunikan Utama yang paling mencolok. Lontongnya dibungkus dengan daun
pisang dan di bentuk menjadi segitiga atau kerucut. Bentuk ini berbeda dari
lontong kebanyakan yang berbentuk lonjong. Bentuk lontong yang segitiga
ternyata menyimpan filosofi tersendiri. Konon, bentuk tiga sudut ini
melambangkan tiga prinsip yang dijunjung tinggi, yaitu: Budaya/Sejarah, Agama,
dan Pendidikan.Ada pula yang menyebutkan bentuk segitiga ini bertujuan agar air
sisa pengukusan dapat keluar, menjadikan lontong lebih kenyal dan tahan lama.
Jika Anda ingin
mencicipi kelezatan Lontong Tuyuhan, Anda dapat langsung datang ke sentra
kuliner di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Rembang. Di sepanjang jalan di
kawasan ini, Anda akan menemukan kios-kios pedagang yang berderet menjajakan
kuliner legendaris ini.
Pada akhirnya,
Lontong Tuyuhan berdiri tegak bukan hanya sebagai hidangan lezat, tetapi
sebagai identitas tak terpisahkan dari Kabupaten Rembang. Di tengah gempuran
kuliner modern, sajian ayam kampung dengan kuah kuning kemerahan yang kaya
rempah ini berhasil mempertahankan keaslian rasanya yang pedas, gurih, dan
legit. Bentuk lontong segitiga yang unik bukan sekadar visual, melainkan sebuah
pengingat abadi akan nilai-nilai luhur dan kisah sejarah penyebaran Islam yang
pernah singgah di tanah Tuyuhan.
penyusun:
1.
Andhika
Firman Syahputra (5)
2.
Nandana
rafi harmawan(24)
3.
Muhammad
Ridwan putra p(23)
4.
Revan
Galang p (29)
karya 2
LEGEN
Sumber. Apa itu
legen? Mungkin sebagian dari kita masih
mengingatnya sebagai minuman segar yang dulu mudah ditemui dari para penjual
keliling. Namun kini, keberadaannya kian jarang, bahkan nyaris tak terdengar
lagi di beberapa daerah.
Setelah ditelusuri, legen adalah minuman tradisional yang berasal dari nira pohon lontar. Minuman ini terkenal karena rasanya yang manis alami, sedikit asam segar, dan memiliki aroma khas yang membuatnya berbeda dari minuman kemasan apa pun. Dulu, banyak penjual legen berkeliling kampung atau pasar, membawa jeriken besar berisi nira segar, lengkap dengan serokan bambunya.
Menurut cerita dari salah satu warga yang pernah menjadi pelanggan setia legen, minuman ini sangat populer di zamannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa legen selalu menjadi teman setia saat bekerja di sawah, saat istirahat siang, atau ketika ada acara-acara desa. Kesegarannya dianggap mampu menghilangkan dahaga dan menjadi penambah tenaga alami.
Berbeda dengan masa sekarang, di mana minuman modern (teh kemasan, minuman bersoda, hingga es berbagai rasa) mudah dijumpai di mana saja—mulai dari warung, toko, hingga minimarket. Pergeseran kebiasaan ini membuat legen tersingkir secara perlahan. Tidak banyak lagi yang mau mengolah nira lontar, apalagi berjualan keliling seperti dulu.
Padahal, proses pembuatan legen sendiri cukup
unik. Nira diambil langsung dari pohon lontar melalui penyadapan. Cairan bening
itu kemudian ditampung dalam wadah bambu atau jeriken, lalu dijual dalam
kondisi segar sebelum terjadi proses fermentasi. Bila dibiarkan lebih lama,
legen bisa berubah menjadi tuak, sehingga para penjual zaman dulu harus
menjualnya pagi hari agar kualitas dan rasanya tetap terjaga.
“Soal rasa, jangan ditanya,” ujar seorang penikmat legen yang kini sudah berusia lanjut. Menurutnya, rasa legen zaman dulu adalah rasa yang tak bisa digantikan minuman apa pun: manis alami, segar, dan menghadirkan kenangan masa kecil.
Kini, keberadaan penjual legen keliling seperti itu hampir tak ada lagi. Banyak faktor penyebabnya—mulai dari semakin jarangnya pohon lontar, berkurangnya generasi penerus yang mau melakukan penyadapan, hingga menurunnya minat pembeli karena banyaknya minuman modern yang lebih praktis.
Demikianlah sedikit pengalaman dan cerita
tentang legen. Sebuah minuman tradisional yang dulu mengisi hari-hari
masyarakat desa, namun kini hanya tersisa dalam nostalgia. Semoga ada upaya
untuk melestarikannya kembali, agar generasi mendatang masih dapat merasakan
kesegaran alami warisan nenek moyang.
Nama Kelompok:
1.
Dinda Aulia Catur M (9)
2.
Felisha Amira Habis (12)
3.
Gisna Dwi Ariyanti (13)
4.
Istiqomah Eva Sabilla (17)
karya 3
Transformasi Global diJawa: Kisah Industri Sepatu dan Tantangan Infrastruktur di Desa Padaran, Rembang
Oleh
karena itu, kisah pabrik sepatu di Desa Padaran menjadi bukti nyata bagaimana
globalisasi mampu mengubah struktur desa secara cepat, namun menuntut respons
yang seimbang. Pihak pemerintah daerah dan manajemen pabrik kini memiliki
pekerjaan rumah ganda: terus mendukung pertumbuhan industri dan penyerapan
tenaga kerja lokal, sekaligus segera memperbaiki kualitas jalan dan
merencanakan tata ruang lalu lintas yang efektif untuk mengatasi kemacetan.
Selain itu, dampak lingkungan berupa limbah produksi dan kebisingan juga harus
dikelola dengan lebih baik. Pada akhirnya, keberhasilan transformasi ini tidak
hanya diukur dari tingginya angka penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dari
kemampuan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjaga lingkungan, mengatasi
isu infrastruktur, dan mempertahankan nilai-nilai kebersamaan di tengah
derasnya arus kehidupan modern.
Nama Anggota
Kelompok:
•Adinda M. (02)
•Neza Khoirin N (25)
•Nurun Niswah (27)
•Siti Ikrima (33)
karya 4
Punden Desa Sendangagung Siman:Jejak Warisan Leluhur
yang Tetap Dijaga Warga
Rembang – Punden yang berada di Desa
Sendangagung, Siman, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang menjadi salah satu
situs bersejarah yang masih dilestarikan oleh warga setempat. Bangunan
sederhana dengan dinding berwarna hijau toska dan pilar kuning khas tradisi Jawa
itu bukan sekadar tempat ritual, tetapi juga simbol penghormatan masyarakat
terhadap leluhur desa.
Punden
ini terletak di area yang cukup terbuka, dikelilingi oleh rumah-rumah warga.
Struktur bangunannya menunjukkan sentuhan budaya lokal: gerbang berbentuk
setengah lingkaran, ornamen pilar, serta cungkup kecil yang menjadi pusat
lokasi ritual doa. Meski tidak besar, keberadaannya memiliki nilai penting
dalam kehidupan sosial masyarakat Sendangagung.
Menurut
warga sekitar, punden tersebut kerap digunakan untuk kegiatan adat tertentu,
seperti selamatan desa, doa bersama yang digelar pada waktu-waktu tertentu.
Masyarakat percaya bahwa punden ini adalah tempat yang menyimpan sejarah awal
berdirinya desa, sekaligus menjadi simbol penjaga ketenteraman wilayah.
Perawatan
punden dilakukan secara gotong royong oleh warga. Setiap beberapa waktu, warga
membersihkan area sekitar, mengecat ulang dinding, serta memperbaiki
bagian-bagian yang mulai rusak. Upaya ini dilakukan agar punden tetap terlihat
rapi dan layak sebagai tempat penghormatan.
Kepala
desa setempat menyampaikan bahwa punden tersebut juga menjadi bagian dari
identitas budaya Desa Sendangagung. “Ini bukan hanya bangunan tua, tetapi bukti
bahwa masyarakat masih menjunjung tinggi nilai tradisi,” ujarnya.
Keberadaan
punden di Desa Sendangagung menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan
leluhur di tengah perubahan zaman. Meski berada di lingkungan pedesaan agraris
yang kini mulai tersentuh modernisasi, warga tetap mempertahankan kearifan
lokal yang diwariskan turun-temurun.
Dengan
demikian, punden ini tidak hanya menjadi situs budaya, tetapi juga simbol
kebersamaan dan penghormatan masyarakat Desa Sendangagung terhadap sejarah dan
identitas mereka sendiri.
Anggota
Kelompok:
1.Abimayu
Wigantama (01) /XII.7
2.Iqbal
Ibra Mufid (15) /XII.7
3.Luna
Maya Ramadhani (18) /XII.7
karya 5
PASAR REMBANG WILAYAH SUMBERJO
Bagi warga Sumberjo, pasar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial. Banyak warga yang saling bertemu,
mengobrol, bertukar kabar, atau sekadar
menyapa. Kehidupan sosial masyarakat terasa sangat kuat di pasar ini,
memperlihatkan budaya rukun, akrab, dan guyub yang masih terjaga.
Akses jalan menuju pasar cukup mudah dilalui kendaraan, baik sepeda motor, mobil, maupun sepeda pancal yang masih banyak dipakai warga Sumberjo. Pada hari-hari tertentu, terutama menjelang hari besar seperti puasa, lebaran, atau musim hajatan, pasar menjadi jauh lebih ramai karena meningkatnya kebutuhan belanja masyarakat.
Dengan segala aktivitasnya, Pasar
Rembang di wilayah Sumberjo memainkan peran penting sebagai pusat ekonomi,
sosial, dan budaya masyarakat. Pasar ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari kehidupan sehari-hari warga, sekaligus mencerminkan dinamika dan
kesederhanaan kehidupan di desa Sumberjo
Anggota kelompok
•RAFAEL DWI A (28)
• EDI PRASTYO (10)
•IQBAL MAULANA (16)
•RIKKY WAHYU R (32)
karya 6
RAJUNGAN
Pernah dengar tentang rajungan? Buat warga pesisir Jawa, nama itu pasti sudah akrab banget.Tapi rajungan dari Desa Gegunung Wetan punya cerita sendiri—bukan sekadar komoditas laut, tapi sudah jadi bagian dari identitas sosial masyarakatnya.
Awalnya, rajungan hanyalah hasil tangkapan sampingan para nelayan kecil di sekitar wilayah pantai Rembang. Namun semakin ke sini, rajungan justru berubah menjadi salah satu sumber ekonomi utama bagi banyak keluarga. Menurut penuturan salah satu warga, tradisi mencari rajungan sudah dilakukan sejak ia masih kecil, dan dulu hasilnya digunakan lebih banyak untuk konsumsi rumah tangga.
Sekarang kondisinya berbeda. Rajungan bukan lagi sekadar lauk rumahan, tetapi sudah masuk ke rantai perdagangan modern. Banyak pengepul datang langsung ke Gegunung Wetan untuk membeli rajungan segar, lalu menyalurkannya ke industri pengolahan maupun ekspor. Perubahan inilah yang menjadi tanda bahwa globalisasi sudah sampai pada lapisan masyarakat kecil.
Perubahan Sosial yang Terjadi
Perubahan sosial di Gegunung Wetan mulai terasa sejak meningkatnya permintaan rajungan.
Beberapa bentuk perubahan yang tampak:
1..Pola Kerja Masyarakat Berubah
Dulu sebagian besar warga bekerja sebagai Nelayan pencari udang & Ikan teri nasi. Sekarang banyak yang beralih menjadi pencari rajungan atau pekerja pengupas rajungan. Bahkan pekerjaan ini melibatkan kelompok ibu-ibu rumah tangga.
2.Pendapatan Meningkat
Banyak keluarga merasakan peningkatan pendapatan harian. Meskipun harganya fluktuatif, tetapi kebutuhan sehari-hari jadi lebih mudah terpenuhi.
3.Interaksi Sosial Lebih Dinamis
Aktivitas pengumpulan dan pengupasan rajungan sering dilakukan ramai-ramai. Hal ini menambah ruang komunikasi, kerja sama, dan solidaritas antarwarga.
4.Perubahan Gaya Hidup
Penghasilan lebih besar membuat sebagian masyarakat mulai memiliki peralatan modern seperti motor baru, gadget, bahkan renovasi rumah. Ini jadi bukti bahwa ekonomi berbasis laut membawa dampak nyata pada kesejahteraan.
Pengaruh Globalisasi bagi Masyarakat Gegunung Wetan
Globalisasi yang masuk lewat perdagangan rajungan membawa dua sisi: peluang dan tantangan.
1.Peluang Ekonomi Lebih Terbuka
Dengan adanya jaringan pemasaran yang luas, rajungan dari desa ini bisa sampai ke pasar kota besar hingga pasar luar negeri. Warga merasa bangga karena hasil lokal bisa dikenal lebih jauh.
2.Standar Mutu Semakin Tinggi
Permintaan global membuat warga harus mengikuti standar kualitas tertentu. Dari cara mengupas, kebersihan, sampai ketepatan pengiriman. Ini mendorong masyarakat jadi lebih terampil dan disiplin.
3.Teknologi Masuk ke Lingkungan Desa
Banyak warga kini menggunakan media sosial atau WhatsApp untuk komunikasi dengan pengepul. Bahkan ada yang mulai mempromosikan produk olahan rajungan secara online.
4.Namun Ada Tantangan Baru
– Harga sering berubah mengikuti pasar global
– Ketergantungan pada pengepul luar
– Persaingan semakin tinggi
– Risiko eksploitasi sumber daya laut jika tidak dikelola bijak
Masyarakat menyadari bahwa globalisasi membawa manfaat, tapi juga menuntut mereka lebih
adaptif dan bijaksana.
Penutup
Rajungan di Desa Gegunung Wetan bukan hanya soal makanan laut. Di baliknya ada cerita tentang kerja keras, perubahan sosial, dan tantangan globalisasi. Warga kini hidup dalam dunia yang semakin terbuka, di mana laut menjadi pintu rezeki sekaligus ruang perjuangan.
Harapannya, dengan semangat gotong royong dan kesadaran menjaga alam, masyarakat Gegunung Wetan bisa terus mempertahankan tradisi rajungan sambil tetap maju mengikuti perkembangan zaman.
Semoga kisah singkat ini bermanfaat dan bisa menginspirasi kita untuk lebih memahami dinamika sosial di desa-desa pesisir. Ingin menyisipkan gambar dari file Anda atau menambahkan bentuk atau kotak teks? Anda bisa melakukannya! Pada tab Sisipkan dari pita, ketuk opsi yang Anda butuhkan.
Anggota kelompok
1. Hasna Aqila (14)
2. Ribkah Wahyu Kristiana(30)
3. Syafira nur afiza (34)
4. Syifa almaghfira Ramadhani (35)
karya 7
Mall Pelayanan Publik Rembang
Dengan hadirnya berbagai instansi tersebut, masyarakat dapat
mengurus e-KTP, KK, Akta Kelahiran, perizinan usaha, pembayaran pajak
kendaraan, jaminan sosial, hingga urusan perbankan dalam satu lokasi.
Fasilitas tersebut memberikan pengalaman pelayanan yang
lebih nyaman dan ramah bagi pengunjung dari berbagai kalangan.
Nama kelompok :
•Aurelya selviani v.p
•Cahaya pelangi cinta
•Nova anindita
•Madha kholilah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar