Selasa, 25 November 2025

Karya Kelas XII-7, November 2025

Berikut karya kelas XII-7

karya 1

LONTONG TUYUHAN

Sumber : https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/en/culinary/lontong-tuyuhan

Rembang – Halo, sudah pernah dengar tentang Lontong Tuyuhan? Kalau Anda pencinta kuliner pedas gurih, makanan yang satu ini wajib banget masuk daftar coba Anda. Benar sekali, ini adalah salah satu pusaka kuliner dari Rembang, Jawa Tengah, tepatnya berasal dari sebuah desa bernama Tuyuhan di Kecamatan Pancur. Makanya, namanya juga unik, kan? Lontong Tuyuhan!

Sekilas, Lontong Tuyuhan ini memang mirip dengan opor atau gulai ayam. Tapi, coba deh perhatikan lebih dekat dan cicipi! Kuahnya itu lho, berwarna kuning kemerahan yang menggoda, tanda bahwa bumbu rempahnya sangat kaya dan tidak pelit cabai. Rasa pedasnya itu bukan Cuma sekadar “nempel” di lidah, tapi benar-benar menyelimuti dan memberikan sensasi hangat yang bikin mata melek. Eits, tapi jangan khawatir, pedasnya diimbangi dengan rasa gurih santan yang kental dan legit. Kombinasi pedas-gurih-manis yang pas inilah yang membuat Lontong Tuyuhan punya karakter rasa yang kuat dan beda dari yang lain.

Lontong Tuyuhan adalah salah satu kekayaan kuliner dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan kisah sejarah dan filosofi mendalam. Makanan ini berasal dari nama sebuah desa, yaitu Desa Tuyuhan di Kecamatan Pancur, Rembang, yang menjadi sentra utama kuliner khas ini.

Lauk Ayam Kampung, Sajian ini menggunakan potongan daging ayam kampung yang dimasak hingga empuk dan meresap sempurna. Pengunjung biasanya bebas memilih bagian ayam sesuai selera.

Lontong Segitiga, Inilah keunikan Utama yang paling mencolok. Lontongnya dibungkus dengan daun pisang dan di bentuk menjadi segitiga atau kerucut. Bentuk ini berbeda dari lontong kebanyakan yang berbentuk lonjong. Bentuk lontong yang segitiga ternyata menyimpan filosofi tersendiri. Konon, bentuk tiga sudut ini melambangkan tiga prinsip yang dijunjung tinggi, yaitu: Budaya/Sejarah, Agama, dan Pendidikan.Ada pula yang menyebutkan bentuk segitiga ini bertujuan agar air sisa pengukusan dapat keluar, menjadikan lontong lebih kenyal dan tahan lama.

Sejarah Lontong Tuyuhan erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di masa Walisongo, khususnya oleh Sunan Bonang. Diceritakan, nama “Tuyuhan” berasal dari kata uyuhan (bahasa Jawa) yang berarti tempat kencing, merujuk pada kisah saat Sunan Bonang bertemu dengan pengedar candu bernama Blancak Ngilo. Dalam pertemuannya, Blancak Ngilo yang ketakutan melarikan diri hingga terkencing-kencing di suatu tempat, yang kemudian dinamakan Desa Tuyuhan. Lontong Tuyuhan bukan sekadar hidangan biasa, namun juga bagian dari warisan budaya lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat Rembang.
Dokumen:https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/en/culinary/lontong-tuyuhan

Jika Anda ingin mencicipi kelezatan Lontong Tuyuhan, Anda dapat langsung datang ke sentra kuliner di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Rembang. Di sepanjang jalan di kawasan ini, Anda akan menemukan kios-kios pedagang yang berderet menjajakan kuliner legendaris ini.

Pada akhirnya, Lontong Tuyuhan berdiri tegak bukan hanya sebagai hidangan lezat, tetapi sebagai identitas tak terpisahkan dari Kabupaten Rembang. Di tengah gempuran kuliner modern, sajian ayam kampung dengan kuah kuning kemerahan yang kaya rempah ini berhasil mempertahankan keaslian rasanya yang pedas, gurih, dan legit. Bentuk lontong segitiga yang unik bukan sekadar visual, melainkan sebuah pengingat abadi akan nilai-nilai luhur dan kisah sejarah penyebaran Islam yang pernah singgah di tanah Tuyuhan.

Maka, bagi para penjelajah rasa sejati, mencicipi Lontong Tuyuhan adalah keharusan mutlak. Kunjungi langsung sentra kuliner Desa Tuyuhan; nikmati suasana lokal yang hidup, dan rasakan kehangatan kuah pedasnya yang akan membangunkan selera. Setelah mencobanya, Anda akan mengerti mengapa kuliner pusaka ini selalu dirindukan. Lontong Tuyuhan adalah penanda destinasi sebuah janji kelezatan yang menanti Anda di ujung timur laut Jawa Tengah.

penyusun:

1.     Andhika Firman Syahputra (5)

2.     Nandana rafi harmawan(24)

3.     Muhammad Ridwan putra p(23)

4.     Revan Galang p (29)

karya 2

LEGEN

Sumber. Apa itu legen?  Mungkin sebagian dari kita masih mengingatnya sebagai minuman segar yang dulu mudah ditemui dari para penjual keliling. Namun kini, keberadaannya kian jarang, bahkan nyaris tak terdengar lagi di beberapa daerah.

Setelah ditelusuri, legen adalah minuman tradisional yang berasal dari nira pohon lontar. Minuman ini terkenal karena rasanya yang manis alami, sedikit asam segar, dan memiliki aroma khas yang membuatnya berbeda dari minuman kemasan apa pun. Dulu, banyak penjual legen berkeliling kampung atau pasar, membawa jeriken besar berisi nira segar, lengkap dengan serokan bambunya.

Menurut cerita dari salah satu warga yang pernah menjadi pelanggan setia legen, minuman ini sangat populer di zamannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa legen selalu menjadi teman setia saat bekerja di sawah, saat istirahat siang, atau ketika ada acara-acara desa. Kesegarannya dianggap mampu menghilangkan dahaga dan menjadi penambah tenaga alami.

Berbeda dengan masa sekarang, di mana minuman modern (teh kemasan, minuman bersoda, hingga es berbagai rasa) mudah dijumpai di mana saja—mulai dari warung, toko, hingga minimarket. Pergeseran kebiasaan ini membuat legen tersingkir secara perlahan. Tidak banyak lagi yang mau mengolah nira lontar, apalagi berjualan keliling seperti dulu.

Padahal, proses pembuatan legen sendiri cukup unik. Nira diambil langsung dari pohon lontar melalui penyadapan. Cairan bening itu kemudian ditampung dalam wadah bambu atau jeriken, lalu dijual dalam kondisi segar sebelum terjadi proses fermentasi. Bila dibiarkan lebih lama, legen bisa berubah menjadi tuak, sehingga para penjual zaman dulu harus menjualnya pagi hari agar kualitas dan rasanya tetap terjaga.

“Soal rasa, jangan ditanya,” ujar seorang penikmat legen yang kini sudah berusia lanjut. Menurutnya, rasa legen zaman dulu adalah rasa yang tak bisa digantikan minuman apa pun: manis alami, segar, dan menghadirkan kenangan masa kecil.

Kini, keberadaan penjual legen keliling seperti itu hampir tak ada lagi. Banyak faktor penyebabnya—mulai dari semakin jarangnya pohon lontar, berkurangnya generasi penerus yang mau melakukan penyadapan, hingga menurunnya minat pembeli karena banyaknya minuman modern yang lebih praktis.

Demikianlah sedikit pengalaman dan cerita tentang legen. Sebuah minuman tradisional yang dulu mengisi hari-hari masyarakat desa, namun kini hanya tersisa dalam nostalgia. Semoga ada upaya untuk melestarikannya kembali, agar generasi mendatang masih dapat merasakan kesegaran alami warisan nenek moyang.

 

Nama Kelompok:

1.      Dinda Aulia Catur M (9)

2.      Felisha Amira Habis (12)

3.      Gisna Dwi Ariyanti (13)

4.      Istiqomah Eva Sabilla (17)


karya 3

Transformasi Global diJawa: Kisah Industri Sepatu dan Tantangan Infrastruktur di Desa Padaran, Rembang

Globalisasi telah menembus batas kota besar dan meresap hingga ke wilayah pedesaan, menjadikan Desa Padaran, Dukuh Jambangan, Rembang, sebagai studi kasus transformatif. Sejak berdirinya pabrik sepatu pada awal 2019-an, desa ini mengalami perubahan sosial dan ekonomi yang mendasar. Masuknya industri ini menjadi katalisator, menawarkan ribuan peluang kerja yang menarik warga lokal dari pekerjaan tradisional seperti buruh tani atau pedagang kecil menjadi penjahit, pengemas, atau pemotong bahan dengan penghasilan yang lebih stabil dan cepat. Pertumbuhan daya beli ini kemudian menciptakan efek domino positif, mendorong munculnya usaha mikro baru—mulai dari warung makan, jasa ojek, konter pulsa, hingga penyewaan kos-kosan—yang secara keseluruhan memperkuat posisi Rembang di peta industri nasional dan secara langsung memperbaiki infrastruktur, seperti jalan dan akses internet, yang semakin menjadi perhatian.
Namun, di balik manfaat ekonomi yang masif, perubahan ini juga membawa tantangan sosial dan infrastruktur. Ritme kehidupan desa yang dahulu tenang kini didominasi oleh mobilitas tinggi pekerja dan kendaraan distribusi. Kecepatan mendapatkan penghasilan di pabrik membuat anak muda cenderung memilih jalur ini, yang berdampak pada berkurangnya partisipasi dalam kegiatan komunal dan nilai kebersamaan tradisional, seperti ronda malam dan gotong royong. Secara fisik, pertumbuhan industri ini memicu masalah serius: lokasi strategis pabrik di jalur utama, terutama di sekitar Desa Jambangan, kini identik dengan kemacetan parah pada jam sibuk. Kondisi ini diperburuk oleh infrastruktur jalan yang belum sepenuhnya memadai, dengan laporan kerusakan yang menghambat arus lalu lintas umum, angkutan barang, bahkan mobilitas pekerja pabrik itu sendiri.

Oleh karena itu, kisah pabrik sepatu di Desa Padaran menjadi bukti nyata bagaimana globalisasi mampu mengubah struktur desa secara cepat, namun menuntut respons yang seimbang. Pihak pemerintah daerah dan manajemen pabrik kini memiliki pekerjaan rumah ganda: terus mendukung pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja lokal, sekaligus segera memperbaiki kualitas jalan dan merencanakan tata ruang lalu lintas yang efektif untuk mengatasi kemacetan. Selain itu, dampak lingkungan berupa limbah produksi dan kebisingan juga harus dikelola dengan lebih baik. Pada akhirnya, keberhasilan transformasi ini tidak hanya diukur dari tingginya angka penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjaga lingkungan, mengatasi isu infrastruktur, dan mempertahankan nilai-nilai kebersamaan di tengah derasnya arus kehidupan modern.

  

Nama Anggota Kelompok:

Adinda M. (02)

Neza Khoirin N (25)

Nurun Niswah (27)

Siti Ikrima (33)


karya 4

Punden Desa Sendangagung Siman:Jejak Warisan Leluhur yang Tetap Dijaga Warga

Rembang Punden yang berada di Desa Sendangagung, Siman, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang menjadi salah satu situs bersejarah yang masih dilestarikan oleh warga setempat. Bangunan sederhana dengan dinding berwarna hijau toska dan pilar kuning khas tradisi Jawa itu bukan sekadar tempat ritual, tetapi juga simbol penghormatan masyarakat terhadap leluhur desa.

Punden ini terletak di area yang cukup terbuka, dikelilingi oleh rumah-rumah warga. Struktur bangunannya menunjukkan sentuhan budaya lokal: gerbang berbentuk setengah lingkaran, ornamen pilar, serta cungkup kecil yang menjadi pusat lokasi ritual doa. Meski tidak besar, keberadaannya memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial masyarakat Sendangagung.

Menurut warga sekitar, punden tersebut kerap digunakan untuk kegiatan adat tertentu, seperti selamatan desa, doa bersama yang digelar pada waktu-waktu tertentu. Masyarakat percaya bahwa punden ini adalah tempat yang menyimpan sejarah awal berdirinya desa, sekaligus menjadi simbol penjaga ketenteraman wilayah.

Perawatan punden dilakukan secara gotong royong oleh warga. Setiap beberapa waktu, warga membersihkan area sekitar, mengecat ulang dinding, serta memperbaiki bagian-bagian yang mulai rusak. Upaya ini dilakukan agar punden tetap terlihat rapi dan layak sebagai tempat penghormatan.

Kepala desa setempat menyampaikan bahwa punden tersebut juga menjadi bagian dari identitas budaya Desa Sendangagung. “Ini bukan hanya bangunan tua, tetapi bukti bahwa masyarakat masih menjunjung tinggi nilai tradisi,” ujarnya.

Keberadaan punden di Desa Sendangagung menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman. Meski berada di lingkungan pedesaan agraris yang kini mulai tersentuh modernisasi, warga tetap mempertahankan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Dengan demikian, punden ini tidak hanya menjadi situs budaya, tetapi juga simbol kebersamaan dan penghormatan masyarakat Desa Sendangagung terhadap sejarah dan identitas mereka sendiri.

 

Anggota Kelompok:

1.Abimayu Wigantama (01) /XII.7

2.Iqbal Ibra Mufid (15) /XII.7

3.Luna Maya Ramadhani (18) /XII.7


karya 5

PASAR REMBANG WILAYAH SUMBERJO

Pasar Rembang yang berada dekat wilayah Sumberjo merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Pasar ini selalu menjadi tempat utama warga Sumberjo dan desa-desa sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas pasar biasanya dimulai sejak dini hari ketika para pedagang mulai datang membawa barang dagangan mereka, seperti sayur-sayuran segar, buah, ikan laut, daging, bumbu dapur, serta hasil pertanian lokal dari para petani Sumberjo.
Pasar ini memiliki area yang cukup luas dengan pembagian los yang teratur. Los sayuran dan buah biasanya berada di bagian depan, sedangkan los ikan dan daging berada di area tersendiri yang lebih lembap untuk menjaga kesegaran bahan pangan. Ada juga pedagang sembako, pakaian, perlengkapan rumah tangga, serta kios makanan yang menjual jajanan tradisional seperti gethuk, apem, cenil, gorengan, hingga nasi pecel. Dentuman suara pedagang yang menawarkan barang, aroma bumbu dapur, dan keramaian pembeli menjadi ciri khas kehidupan pasar setiap pagi.

Bagi warga Sumberjo, pasar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial. Banyak warga yang saling bertemu,

mengobrol, bertukar kabar, atau sekadar menyapa. Kehidupan sosial masyarakat terasa sangat kuat di pasar ini, memperlihatkan budaya rukun, akrab, dan guyub yang masih terjaga.

Akses jalan menuju pasar cukup mudah dilalui kendaraan, baik sepeda motor, mobil, maupun sepeda pancal yang masih banyak dipakai warga Sumberjo. Pada hari-hari tertentu, terutama menjelang hari besar seperti puasa, lebaran, atau musim hajatan, pasar menjadi jauh lebih ramai karena meningkatnya kebutuhan belanja masyarakat.

Dengan segala aktivitasnya, Pasar Rembang di wilayah Sumberjo memainkan peran penting sebagai pusat ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Pasar ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga, sekaligus mencerminkan dinamika dan kesederhanaan kehidupan di desa Sumberjo

Anggota kelompok

•RAFAEL DWI A (28)

• EDI PRASTYO (10)

•IQBAL MAULANA (16)

•RIKKY WAHYU R (32)


karya 6

RAJUNGAN

Pernah dengar tentang rajungan? Buat warga pesisir Jawa, nama itu pasti sudah akrab banget.Tapi rajungan dari Desa Gegunung Wetan punya cerita sendiri—bukan sekadar komoditas laut, tapi sudah jadi bagian dari identitas sosial masyarakatnya. 

Awalnya, rajungan hanyalah hasil tangkapan sampingan para nelayan kecil di sekitar wilayah pantai Rembang. Namun semakin ke sini, rajungan justru berubah menjadi salah satu sumber ekonomi utama bagi banyak keluarga. Menurut penuturan salah satu warga, tradisi mencari rajungan sudah dilakukan sejak ia masih kecil, dan dulu hasilnya digunakan lebih banyak untuk konsumsi rumah tangga. 

Sekarang kondisinya berbeda. Rajungan bukan lagi sekadar lauk rumahan, tetapi sudah masuk ke rantai perdagangan modern. Banyak pengepul datang langsung ke Gegunung Wetan untuk membeli rajungan segar, lalu menyalurkannya ke industri pengolahan maupun ekspor. Perubahan inilah yang menjadi tanda bahwa globalisasi sudah sampai pada lapisan masyarakat kecil.

Perubahan Sosial yang Terjadi 

Perubahan sosial di Gegunung Wetan mulai terasa sejak meningkatnya permintaan rajungan.

Beberapa bentuk perubahan yang tampak: 

1..Pola Kerja Masyarakat Berubah 

Dulu sebagian besar warga bekerja sebagai Nelayan pencari udang & Ikan teri nasi. Sekarang banyak yang beralih menjadi pencari rajungan atau pekerja pengupas rajungan. Bahkan pekerjaan ini melibatkan kelompok ibu-ibu rumah tangga. 

2.Pendapatan Meningkat 

Banyak keluarga merasakan peningkatan pendapatan harian. Meskipun harganya fluktuatif, tetapi kebutuhan sehari-hari jadi lebih mudah terpenuhi. 

3.Interaksi Sosial Lebih Dinamis

Aktivitas pengumpulan dan pengupasan rajungan sering dilakukan ramai-ramai. Hal ini menambah ruang komunikasi, kerja sama, dan solidaritas antarwarga. 

4.Perubahan Gaya Hidup 

Penghasilan lebih besar membuat sebagian masyarakat mulai memiliki peralatan modern seperti motor baru, gadget, bahkan renovasi rumah. Ini jadi bukti bahwa ekonomi berbasis laut membawa dampak nyata pada kesejahteraan. 

Pengaruh Globalisasi bagi Masyarakat Gegunung Wetan 

Globalisasi yang masuk lewat perdagangan rajungan membawa dua sisi: peluang dan tantangan. 

1.Peluang Ekonomi Lebih Terbuka 

Dengan adanya jaringan pemasaran yang luas, rajungan dari desa ini bisa sampai ke pasar kota besar hingga pasar luar negeri. Warga merasa bangga karena hasil lokal bisa dikenal lebih jauh. 

2.Standar Mutu Semakin Tinggi 

Permintaan global membuat warga harus mengikuti standar kualitas tertentu. Dari cara mengupas, kebersihan, sampai ketepatan pengiriman. Ini mendorong masyarakat jadi lebih terampil dan disiplin. 

3.Teknologi Masuk ke Lingkungan Desa 

Banyak warga kini menggunakan media sosial atau WhatsApp untuk komunikasi dengan pengepul.  Bahkan ada yang mulai mempromosikan produk olahan rajungan secara online. 

4.Namun Ada Tantangan Baru 

– Harga sering berubah mengikuti pasar global

– Ketergantungan pada pengepul luar 

– Persaingan semakin tinggi 

– Risiko eksploitasi sumber daya laut jika tidak dikelola bijak 

Masyarakat menyadari bahwa globalisasi membawa manfaat, tapi juga menuntut mereka lebih

adaptif dan bijaksana. 

Penutup


Rajungan di Desa Gegunung Wetan bukan hanya soal makanan laut. Di baliknya ada cerita tentang kerja keras, perubahan sosial, dan tantangan globalisasi. Warga kini hidup dalam dunia yang semakin terbuka, di mana laut menjadi pintu rezeki sekaligus ruang perjuangan. 

Harapannya, dengan semangat gotong royong dan kesadaran menjaga alam, masyarakat Gegunung Wetan bisa terus mempertahankan tradisi rajungan sambil tetap maju mengikuti perkembangan zaman. 

Semoga kisah singkat ini bermanfaat dan bisa menginspirasi kita untuk lebih memahami dinamika sosial di desa-desa pesisir. Ingin menyisipkan gambar dari file Anda atau menambahkan bentuk atau kotak teks? Anda bisa melakukannya! Pada tab Sisipkan dari pita, ketuk opsi yang Anda butuhkan. 

Anggota kelompok  

1. Hasna Aqila (14) 

2. Ribkah Wahyu Kristiana(30) 

3. Syafira nur afiza (34) 

4. Syifa almaghfira Ramadhani (35) 


karya 7


Mall Pelayanan Publik Rembang

Mall Pelayanan Publik (MPP) Rembang merupakan sebuah inovasi pelayanan terpadu yang hadir sebagai wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Rembang dalam memberikan layanan yang mudah, cepat, dan nyaman bagi masyarakat. Sebagai pusat integrasi berbagai jenis layanan, MPP Rembang menjadi tonggak penting dalam reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan
Sebelum adanya Mall Pelayanan Publik, masyarakat sering menghadapi berbagai kendala seperti proses pengurusan dokumen yang tersebar di banyak tempat, antrean panjang, kurangnya kejelasan informasi, dan birokrasi yang rumit. Untuk menjawab permasalahan tersebut, pemerintah mengembangkan konsep pelayanan satu pintu yang diwujudkan melalui MPP. Konsep ini menggabungkan berbagai instansi dalam satu gedung sehingga pelayanan dapat dilakukan secara terpusat, efektif, dan terukur.


MPP Rembang menyediakan berbagai layanan dari instansi pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan swasta. Beberapa instansi yang tergabung antara lain:
1. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil)
2. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)
3. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat)
4. BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan
5. Kantor Imigrasi (layanan paspor tertentu)
6. Lembaga keuangan seperti bank daerah dan nasional
7. Layanan perizinan usaha
8. Layanan dari Kementerian Agama
9. Layanan pertanahan tertentu

Dengan hadirnya berbagai instansi tersebut, masyarakat dapat mengurus e-KTP, KK, Akta Kelahiran, perizinan usaha, pembayaran pajak kendaraan, jaminan sosial, hingga urusan perbankan dalam satu lokasi.

Fasilitas dan Sarana Pendukung

Untuk mendukung kenyamanan masyarakat, MPP Rembang dilengkapi fasilitas modern seperti:
- Ruang tunggu ber-AC yang luas
- Sistem antrean elektronik
- Area bermain anak
- Ruang laktasi
- Area disabilitas yang ramah
- Pusat informasi layanan
- Kafe atau area istirahat
- Ruang konsultasi layanan

Fasilitas tersebut memberikan pengalaman pelayanan yang lebih nyaman dan ramah bagi pengunjung dari berbagai kalangan.


Mall Pelayanan Publik Rembang bukan sekadar tempat pengurusan dokumen, tetapi simbol perubahan menuju pelayanan pemerintah yang lebih terbuka, efisien, dan modern. Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, MPP Rembang akan terus berkembang menjadi pusat pelayanan unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan publik secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Nama kelompok :

•Aurelya selviani v.p

•Cahaya pelangi cinta

•Nova anindita

•Madha kholilah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar