karya 1
ALAT PEMBAJAK SAWAH
11 November 2025
Pagi
itu saya kembali melakukan pengamatan di Dusun Bogoharjo. Cuaca cerah, langit
berwarna biru lembut, dan angin pagi terasa sejuk. Dari kejauhan saya kembali
mendengar deru mesin traktor yang sudah mulai bekerja sejak matahari belum
terlalu tinggi. Suara itu kini menjadi hal yang sangat biasa di desa kami,
berbeda dengan dulu ketika yang terdengar hanyalah ringkikan kerbau atau
langkah pelan sapi di lumpur.
Ketika
saya tiba di area persawahan dekat sungai kecil desa, saya melihat Pak Suyatno
sedang duduk beristirahat sambil memantau traktor yang disewa untuk membajak
lahan miliknya. Beliau bercerita bahwa dulu, jika menggunakan kerbau, ia harus
memulai pekerjaan sejak subuh agar tanah selesai dibajak menjelang sore.
Sekarang, ia hanya perlu memastikan traktor bekerja dengan benar dan sisanya
dikerjakan oleh operator mesin.
Menurut
pengalaman saya mengamati kehidupan petani di Bogoharjo, perubahan ini tidak
hanya memengaruhi cara kerja tetapi juga pola aktivitas sehari-hari warga.
Misalnya, para petani yang dulu harus mempersiapkan pakan kerbau dari rumput
setiap pagi, kini tidak perlu melakukan pekerjaan ekstra itu. Waktu mereka
menjadi lebih banyak digunakan untuk merawat tanaman, memperbaiki pematang,
atau bahkan kegiatan di rumah yang sebelumnya sering diabaikan.
Ketika
saya berjalan menyusuri pematang, saya melihat beberapa warga lanjut usia
sedang duduk sambil bercerita. Mereka mengenang masa ketika membajak memakai
kerbau adalah bagian dari kehidupan yang penuh kebersamaan. “Biyen iso podo
gotong royong. Yen kerbo kesel, gantian karo tangga,” kata salah satu dari
mereka. Namun, mereka juga mengakui bahwa zaman sudah berubah dan teknologi
membawa kemudahan yang besar.
Tepat
di sebelah sawah, beberapa anak kecil sedang bermain layangan. Mereka terlihat
tidak begitu tertarik pada kerbau atau alat tradisional lain, karena bagi
mereka pemandangan traktor adalah hal yang lumrah sejak kecil. Saya sempat
berpikir bahwa generasi sekarang mungkin tidak akan merasakan bagaimana rasanya
melihat petani berjuang menuntun kerbau di tengah lumpur tebal.
Menjelang
siang, traktor menyelesaikan pekerjaannya dan operator mematikan mesin. Tanah
sawah terlihat halus, rata, dan siap untuk ditanami. Perubahan ini jelas
membawa banyak manfaat bagi petani Bogoharjo: pekerjaan lebih ringan, waktu
lebih efisien, dan hasil pembajakan lebih merata.
Dari
pengalaman saya mengamati langsung, kemajuan teknologi pertanian seperti
traktor telah memberikan dampak besar pada pola kehidupan dan produktivitas
masyarakat desa. Meski beberapa tradisi dan kenangan masa lalu mulai
ditinggalkan, para petani tetap bersyukur karena pekerjaan mereka kini menjadi
lebih mudah.
karya 2
karya 3
GAME ONLINE
Pernahkah Anda melihat sekelompok anak berkumpul tetapi bukan sedang bermain permainan tradisional? Mereka duduk melingkar, menatap layar ponsel masing-masing, sesekali tertawa atau berteriak kecil ketika menang ataupun kalah. Itulah yang saya amati sore ini di Desa Sidowayah, RT 1 RW 3: anak-anak yang asyik bermain game online setelah selesai mengaji.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, permainan digital semakin mudah dijangkau oleh semua kalangan. Beberapa warga sekitar mengatakan bahwa anak-anak sekarang lebih mengenal game online dibandingkan permainan tradisional yang dulu sering dimainkan, seperti gobak sodor, petak umpet, atau engklek. “Saiki wes jamane Hp,” ujar salah satu bapak yang saya temui sambil melihat anak-anak itu berkumpul dengan tenang sambil memegang ponsel.
Menurut pengamatan saya, anak-anak yang bermain ini biasanya berkumpul di depan sebuah warung kecil dekat tempat mengaji. Setelah kegiatan mengaji selesai, beberapa dari mereka tidak langsung pulang. Mereka duduk bersama, lalu memulai permainan bareng dengan menyambungkan hp mereka masing masing pada wifi yang tersedia di salah satu rumah. Aktivitas ini sudah menjadi rutinitas dan menjadi salah satu hiburan utama bagi mereka.
Dari sudut pandang sosiologi, kegiatan ini menarik untuk diperhatikan. Walaupun fokus mereka berada pada layar ponsel, interaksi sosial tetap berlangsung. Mereka saling memberi saran, saling menggoda, bekerja sama dalam tim, bahkan berdiskusi strategi. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak menghilangkan hubungan sosial, tetapi mengubah bentuk dan caranya.
Namun, ada perubahan budaya yang terasa. Kegiatan bermain tradisional hampir tidak terlihat lagi di lingkungan ini. Tidak ada suara anak berlarian mengejar teman seperti dulu. Yang terdengar kini hanyalah suara game dan tawa kecil ketika mereka bermain bersama. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran budaya bermain anak, dari aktivitas fisik ke aktivitas digital.
Bentuk kebersamaan mereka juga berubah. Jika dulu anak-anak cenderung aktif bergerak, kini mereka duduk berdekatan dengan fokus masing-masing, tetapi masih berada dalam satu kelompok sosial. Ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi pola interaksi dan dinamika pergaulan anak di desa.
Pengamatan sore ini memberikan gambaran bahwa dunia bermain anak-anak kini tidak hanya berada di lapangan, halaman rumah, atau jalan desa, tetapi juga di ruang virtual yang mereka akses melalui internet. Meskipun medium bermain berubah, semangat kebersamaan tetap ada dalam bentuk yang baru.
Nama
Kelompok
- Aniq Diyaan Aizzani(3)
- Anisa Widya Arsita (4)
- Naufal Harits Abdurrahman (18l
- Tekysa Putri Ananda (32)
karya 4
Globalisasi dan Perubahan Sosial Desa Gegunung Wetan
Globalisasi membawa banyak perubahan di Desa Gegunung Wetan, Rembang, Jawa Tengah. Di bidang ekonomi, para nelayan rajungan kini mulai menggunakan kapal dan alat tangkap yang lebih modern, sehingga hasil tangkapan menjadi lebih banyak dan proses kerjanya lebih cepat. Hasil rajungan yang dulu hanya dipasarkan di sekitar desa, kini dapat dikirim ke luar daerah karena adanya jaringan distribusi dan permintaan dari industri pengolahan. Perkembangan ini meningkatkan pendapatan sebagian warga meskipun harga rajungan sering berubah mengikuti kondisi pasar nasional.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak warga terutama ibu-ibu bekerja sebagai pengupas rajungan. Mereka mendapat pesanan dari pengepul atau pabrik, dan hasil kupasan kemudian diproses lebih lanjut untuk kebutuhan industri. Pekerjaan mengupas rajungan ini menjadi sumber pendapatan penting bagi masyarakat desa, serta menunjukkan bagaim
Selain itu, sektor transportasi di desa semakin berkembang dengan akses jalan yang lebih baik, sehingga memudahkan pengiriman hasil tangkapan serta mobilitas warga. Sementara itu, dunia pendidikan juga ikut terdampak globalisasi melalui kemudahan akses inf ormasi dan program-program pelatihan yang masuk ke desa.
Salah satu peristiwa menarik yang terjadi di desa ini adalah penemuan sebuah jangkar besar oleh para nelayan. Jangkar tersebut ditemukan saat warga melaut, diduga berasal dari kapal tua yang sudah lama tenggelam. Temuan ini menarik perhatian masyarakat karena dianggap sebagai bukti sejarah aktivitas pelayaran dan perdagangan yang dahulu pernah berlangsung di perairan Rembang. Penemuan tersebut menambah wawasan tentang kekayaan maritim di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, globalisasi membuat Desa Gegunung Wetan semakin terbuka terhadap perkembangan dunia luar. Perubahan di bidang ekonomi, pekerjaan, dan transportasi mendorong masyarakat untuk terus beradaptasi, namun desa tetap menyimpan sejarah lokal yang penting seperti penemuan jangkar besar yang menjadi bagian dari identitas maritimnya.
Nama Anggota:
1. Choirna Nur Madini (6)
2. Kelvin Dwi Saputra (10)
3. Marsha Dwi Cahyani (12)
4. Siti Wijiyawanti (30)
karya 5
Laporan Observasi Dampak Globalisasi
Observasi Desa Tasikagung
Disusun oleh:
- Nurriska
Ardina Aulia (22)
- Safiira
Nur Aulia P. S. (28)
- Tasya
Putri Shofia (31)
- Zaskia
Vedayana (35)
Pada hari pertama, kami datang ke wilayah pesisir Desa Tasikagung pada pagi hari. Suasananya ramai karena banyak nelayan baru saja selesai melaut. Kami melihat mereka menurunkan hasil tangkapan seperti ikan kembung, tongkol, dan udang dari perahu-perahu kecil yang berjejer di pinggir pelabuhan.
Salah satu nelayan yang kami temui adalah Pak Rudi. Beliau menjelaskan bahwa sekarang proses jual beli ikan menjadi lebih mudah karena adanya grup WhatsApp khusus antara nelayan dan pedagang. Nelayan tinggal mengirim foto hasil tangkapan, lalu pembeli bisa langsung memesan. Ini menunjukkan bahwa globalisasi sudah masuk ke sektor komunikasi dan mempercepat aktivitas ekonomi masyarakat.
Kami juga melihat beberapa ibu-ibu yang sedang membersihkan ikan sambil memfoto dagangannya untuk diposting ke marketplace lokal dan grup Facebook. Mereka bercerita bahwa banyak pembeli dari kecamatan sebelah melakukan pemesanan melalui online dan mengambil barangnya pada sore hari. Media sosial benar-benar mempermudah pemasaran produk laut.
Pada sore hari, kami melihat sekelompok remaja sedang mengedit video drone yang mereka rekam dari pantai. Katanya video itu akan dipakai untuk mempromosikan wisata lokal desa. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi modern sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak muda di sana.
Menjelang matahari terbenam, suasana pelabuhan semakin ramai oleh anak-anak muda yang nongkrong sambil menikmati sunset. Mereka duduk di pinggir dermaga, ngobrol santai, dan beberapa memotret pemandangan untuk diunggah ke media sosial. Kegiatan ini memperlihatkan perpaduan antara gaya hidup modern dengan aktivitas khas masyarakat pesisir.
Hari 2
Di hari kedua, suasana di Tasikagung terasa lebih tenang. Banyak warga yang fokus mengolah hasil tangkapan hari sebelumnya. Kami melihat beberapa warga menjalankan usaha pengasapan ikan secara tradisional menggunakan tungku kayu dan bambu. Walaupun prosesnya masih sederhana, pemasaran produk mereka sudah modern.
Kami sempat berbincang dengan Bu Rina, seorang pengusaha pengasapan ikan. Ia mengatakan bahwa banyak pelanggan yang memesan lewat pesan instan atau grup Facebook, sehingga ia tidak hanya bergantung pada pengunjung yang datang langsung. Bahkan ada pelanggan dari desa lain yang memesan terlebih dahulu secara online sebelum mengambil produknya. Ini menjadi bukti bahwa globalisasi sudah mempengaruhi cara warga menjual produk.
Selain itu, di pinggir pantai kami melihat anak-anak bermain sambil menggunakan ponsel. Ada yang nonton YouTube dan ada yang bermain game, sementara orang tua mereka sibuk merapikan jaring. Ini menunjukkan bahwa budaya digital sudah sangat melekat pada kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak. Menjelang sore, beberapa remaja terlihat membantu orang tuanya memotret dan merekam proses pengolahan ikan untuk diunggah ke media sosial sebagai bentuk promosi usaha keluarga.
Sama seperti hari sebelumnya, pelabuhan kembali
dipenuhi anak-anak muda yang datang untuk nongkrong dan menikmati sunset.
Mereka duduk-duduk di tepi dermaga, berbincang santai, sambil menyaksikan
matahari tenggelam di balik laut. Suasananya terasa hangat dan menyenangkan.
karya 6
Pada suatu sore di Desa Pengkol, saya melakukan observasi di lapangan desa. Lapangan tersebut memiliki gawang besar yang biasa digunakan untuk pertandingan resmi. Namun, sore itu terlihat segerombolan anak-anak datang sambil membawa beberapa batang bambu. Mereka bekerja sama membuat gawang kecil karena ingin bermain sepak bola dengan ukuran lapangan yang sesuai untuk anak-anak. Kekompakan dan kreativitas mereka sangat terlihat ketika bambu-bambu itu disusun hingga menjadi gawang kecil sederhana.
Setelah gawang selesai dibuat, mereka mulai bermain sepak bola menggunakan bola plastik. Meskipun peralatannya sederhana, semangat mereka sangat tinggi. Teriakan sorak, tawa, dan suara bola plastik yang ditendang memenuhi suasana. Mereka berlari, saling mengejar bola, dan merayakan setiap gol dengan gembira.
Suasana sore itu menjadi bukti bahwa
globalisasi dan perubahan sosial juga terjadi di Desa Pengkol. Anak-anak
memanfaatkan ruang publik sebagai tempat berkegiatan positif dan tetap menjaga
nilai kebersamaan serta kreativitas lokal. Mereka memadukan fasilitas desa yang
ada dengan inisiatif sendiri, menciptakan suasana permainan yang menyenangkan
dan penuh kekompakan.
karya 7
Pada suatu sore di desa Pulo, saya
melakukan observasi di persawahan desa. Sawah tersebut memiliki pemandangan
yang indah, dan anginnya sejuk. Pada sore itu terlihat beberapa anak sedang
bermain layang-layang, mereka berlari sambil tertawa melihat layangan mereka
terbang tinggi.
Selain itu, saya juga melihat beberapa
warga sedang menanam padi di sawah. Mereka menanam bersama sambil bercanda dan
saling membantu agar pekerjaan lebih cepat selesai.
Disisi lain, pera remaja dan orang dewasa
tampak bermain sepak bola di lapangan desa Pulo. Mereka tampak bersemangat dan
saling adu balas gol hingga adzan maghrib berkumandang.
Pengamatan sore ini membuktikan bahwa
globalisasi dan perubahan sosial telah terjadi di desa Pulo. Anak-anak hingga
orang dewasa memanfaatkan ruang publik untuk saling menjaga kebersamaan.
Anggota Kelompok:
- Ahmad Aziz M. (2)
- M. Kholid Al Kendy (14)
- Vania Fatimatuzzahra (33)
- Yova Adigha Diaz Pratama (36)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar